Minggu, 06 Januari 2019

Jepara, 7 January 2019

Menghamba bukanlah suatu gelar mulia yang diperebutkan. Namun lebih kepada status akibat efek yang ditimbulkan dari prilaku jiwa. Seorang hamba sejati tak pernah mengatakan dirinya menyembah tuhan disetiap waktunya. Karena baginya urusan kedekatan adalah milik mereka berdua. Seperti halnya ketika bersama kekasih yang tak rela kemesraannya diganggu tentangga. Hamba yang menghamba adalah yang berprilaku seperti air mengalir menyejukkan tanpa merusak, menjadi sumber kehidupan dan kedamaian, mengalir menuju muara tempat sejatinya ia tercipta. tindak patuhnya Sesuai pola aliran yang segaris dengan keinginan sang pencipta, untuk selalu memupuk sembah dan hormat, bukan yang mengaku sesuai namun bertikai dan bercerai berai, Memusuhi tanpa saling menghormati Atau Melupakan esensi sembah Tuhan yang sesungguhnya. Karena ketika telah merasuk dalam jiwanya kenikmatan yang terpatri sebab cinta yang menghamba maka ia akan abai terhadap raksa. Mengabai terhadap apa yang dijanjikan Tuhannya. Buat apa mendapatkan janji kalau pemberinya pun bisa senantiasa memberi dengan senang hati.
Hakikat dari musuh yang nyata adalah angkara. yaitu nafsu. Nafsu menjadi bagian penting dalam proses makar yang dilakukan syetan untuk mengkudeta hati dan tubuh manusia. Namun, bukannya membrantas nafsu namun manusia lebih pada menghujat syetan.. Padahal setan akan hanya menuruti dan mendatangi lambaian nafsu dalam diri seorang hamba. Memang. Setan adalah sang antagonis terhebat yang sangat sukses melaksanakan tugasnya.. bentuk kepatuhannya adalah dengan sikap antagonis yang diperintahkan oleh sang sutradara. sebagai akibat gagalnya ia berperan protagonis dimasa silam. Namun, perlu diingat. terkadang ekspektasi memghamba terlalu tinggi dapat menimbulkan dampak penyembahan tak bernilai sama sekali.  Karena terkadang menghamba pada kuasa dengan mensyukuri nikmatnya dapat pula diartikan menyembah nikmatnya. Bukan pemberinya. Seperti halnya pengemis yang berpura-pura sakit agar dikasih pemberi. tujuan permintaan adalah uangnya. Tanpa ada rasa balas budi pada pemiliknya.  Maka. Mengharap sedikit lentera dalam gulita adalah jawaban sesungguhnya. Kita menghamba dengan sepenuhnya. Mencoba mendalami gelap untuk menggapai terang. Bukan meraba terang untuk menuju titik gelap.  Ya. Titik gelap fatamorgana muara janji yang menenggelamkan mahabbah manusia pada sang pencipta. menghamba pada sholat dhuha agar muara janji rezeqi tiada tara. Menghamba pada shodaqoh agar dikembalikan harta tanpa disangka.. Semua itu tak bisa disalahkan. Namun alangkah lebih baiknya. Murnikan status menghamba sesuai tempatnya. Ibarat domba. Kau ambil induknya. Kan ikut pula anak-anaknya.

Dak pyee aa...

Selasa, 27 November 2018

Toleransi Angka
"Meraba makna 0-1-9"

Yogyakarta, 27 November 2018
0 adalah pembelajaran tentang dapat menerima segala, mengesampingkan timbunan asa berapapun hasil usaha nikmati kuasa-Nya. Dianggap tak berarti bukan bermakna tak berharga.. Mencoba sembunyikan diri dalam deretan namun bernilai fantastis dalam guratan nilai tukar. Mencoba kembali sadar bahwa hidup tak selamanya butuh anggapan. Boleh persuasi namun simpan dulu ambisi. Karena 0 ada namun sering terlupa dalam angka. Ketika kau bertanya pada anak kecil, sebutkan angka sampai 10!? Kan terucap di bibir.. 1, 2, 3 dan seterusnya. Ia kan tampak ketika mencoba memahami ilmunya bukan substitusinya. Begitu juga Tuhan, dianggap ada namun sering terlupa. Manusia selalu sibuk dengan angka selanjutnya tanpa menoleh awal kejadiannya. Ya, semua dari sang kuasa. Konsep 0 dalam angka.
1 kusayang ibu, katanya. Buktinya hadis berkata ibu 3 kali. Lalu 1 untuk apa? Mengingatkan kita bahwa tegak lurus dalam prinsip untuk masuk dalam persepsi itu berharga, ketika kita menganggap suatu benda itu 1, maka terabailah pengakuan bahwa ego harus dipertahankan. Konsep toleransi kuno di jawa menyebutkan : becik ketitik olo ketoro. Mengajarkan bahwa meskipun baik ia tak perlu diperdebatkan, namun cukup jadi panutan, ketitik dalam arti terlihat maka terabaikan kata terakui. Kebenaran tak perlu pengakuan karena ketika diakui maka akan muncul argumentasi bermodus persuasi kepentingan manusiawi. Persepsi tentang kebenaran cukuplah untuk diri sendiri, tak perlu di ekspost agar kau merasa orang yang benar, padahal kau hanya mengucapkan kata yg benar. Tanpa tau esensi benar itu telah merasuk dalam daily activity atau tidak. Ketika merasa ada yang salah cukuplah sebagai cermin untuk masa yang akan datang, karena kau bukan hakim tentang kebenaran. Kau hanya orang yang dikepala ada dalil lalu kau ungkapkan dengan bibir. Hanya itu ! Maka konsep 1 adalah memandang 1 hal untuk konsumsi dan mengabaikan 1 hal lain untuk produksi emosi. Tegak lurus tak perlu penyangga. Maka berdiri untuk kebenaran tak perlu statmen persuasi. Jadi diri sendiri !!
9, ketika semua perdebatan otak telah lelah maka berfikirlah bahwa semua yang kau jalani intinya sama.  deretan harus berakhir secepatnya, hingga puncak perbedaan angka akan kembali semula. 9 mengajarkan keseimbangan. Saat kontradiksi tentang suatu hal maka ingatlah semua itu sama dalam perspeksi masing-masing jiwa. Maka 9 ketika dibagi hanya akan muncul 3 dan 3. bermakna semua seimbang dalam kesetaraan. maka habiskan semuanya sampai kau tau bahwa yang kau bicarakan bagaikan neraca dalam timbangan. katanya berharga harus berat sebelah tapi amati, berat sebelah karena ada beban. Maka yang membuatmu tak bisa menerima perbedaan adalah beban otak dan ego yang kau pinggul kelamaan. Ketika kau lepaskan maka kan kau temui indahnya neraca dalam kesejajaran. Pada akhirnya, setelah 9 akan ada 10. Mengingatkan bahwa ujung persuasi harus berakhir konklusi yang bertumpu pada angka sebelumnya 1 dan 0. kembali tegak jadi diri sendiri dan kembali pada asal tanpa mengharap pengakuan..
Dak pyeee aaa....
#nglanturejiwonglindur