Selasa, 27 November 2018

Toleransi Angka
"Meraba makna 0-1-9"

Yogyakarta, 27 November 2018
0 adalah pembelajaran tentang dapat menerima segala, mengesampingkan timbunan asa berapapun hasil usaha nikmati kuasa-Nya. Dianggap tak berarti bukan bermakna tak berharga.. Mencoba sembunyikan diri dalam deretan namun bernilai fantastis dalam guratan nilai tukar. Mencoba kembali sadar bahwa hidup tak selamanya butuh anggapan. Boleh persuasi namun simpan dulu ambisi. Karena 0 ada namun sering terlupa dalam angka. Ketika kau bertanya pada anak kecil, sebutkan angka sampai 10!? Kan terucap di bibir.. 1, 2, 3 dan seterusnya. Ia kan tampak ketika mencoba memahami ilmunya bukan substitusinya. Begitu juga Tuhan, dianggap ada namun sering terlupa. Manusia selalu sibuk dengan angka selanjutnya tanpa menoleh awal kejadiannya. Ya, semua dari sang kuasa. Konsep 0 dalam angka.
1 kusayang ibu, katanya. Buktinya hadis berkata ibu 3 kali. Lalu 1 untuk apa? Mengingatkan kita bahwa tegak lurus dalam prinsip untuk masuk dalam persepsi itu berharga, ketika kita menganggap suatu benda itu 1, maka terabailah pengakuan bahwa ego harus dipertahankan. Konsep toleransi kuno di jawa menyebutkan : becik ketitik olo ketoro. Mengajarkan bahwa meskipun baik ia tak perlu diperdebatkan, namun cukup jadi panutan, ketitik dalam arti terlihat maka terabaikan kata terakui. Kebenaran tak perlu pengakuan karena ketika diakui maka akan muncul argumentasi bermodus persuasi kepentingan manusiawi. Persepsi tentang kebenaran cukuplah untuk diri sendiri, tak perlu di ekspost agar kau merasa orang yang benar, padahal kau hanya mengucapkan kata yg benar. Tanpa tau esensi benar itu telah merasuk dalam daily activity atau tidak. Ketika merasa ada yang salah cukuplah sebagai cermin untuk masa yang akan datang, karena kau bukan hakim tentang kebenaran. Kau hanya orang yang dikepala ada dalil lalu kau ungkapkan dengan bibir. Hanya itu ! Maka konsep 1 adalah memandang 1 hal untuk konsumsi dan mengabaikan 1 hal lain untuk produksi emosi. Tegak lurus tak perlu penyangga. Maka berdiri untuk kebenaran tak perlu statmen persuasi. Jadi diri sendiri !!
9, ketika semua perdebatan otak telah lelah maka berfikirlah bahwa semua yang kau jalani intinya sama.  deretan harus berakhir secepatnya, hingga puncak perbedaan angka akan kembali semula. 9 mengajarkan keseimbangan. Saat kontradiksi tentang suatu hal maka ingatlah semua itu sama dalam perspeksi masing-masing jiwa. Maka 9 ketika dibagi hanya akan muncul 3 dan 3. bermakna semua seimbang dalam kesetaraan. maka habiskan semuanya sampai kau tau bahwa yang kau bicarakan bagaikan neraca dalam timbangan. katanya berharga harus berat sebelah tapi amati, berat sebelah karena ada beban. Maka yang membuatmu tak bisa menerima perbedaan adalah beban otak dan ego yang kau pinggul kelamaan. Ketika kau lepaskan maka kan kau temui indahnya neraca dalam kesejajaran. Pada akhirnya, setelah 9 akan ada 10. Mengingatkan bahwa ujung persuasi harus berakhir konklusi yang bertumpu pada angka sebelumnya 1 dan 0. kembali tegak jadi diri sendiri dan kembali pada asal tanpa mengharap pengakuan..
Dak pyeee aaa....
#nglanturejiwonglindur



Tidak ada komentar:

Posting Komentar