Selasa, 08 Januari 2019

"Raungan selaput dara"
-Merenungi hasil umpatan sosial media-

Jepara, 9 Januari 2019

"80 juta? itu ngapain aja? " kata tetangga.
Saya sedikit kasian dan empati kepada adinda. Terkekang oleh umpatan dan racauan keji mulut mereka. Sejenak coba berfikir dan duduk bersama tanpa embel-embel berita. Satu yang harus dipikirkan. Seberapa berharga kau nilai selakanganmu dengan harta? Tidak, itu terlihat ekstrim. Saya rubah. bukankah islam sangat mengatur kesucian secara mutlak tanpa batasan? Nah, keliatan lebih diperhatikan. [ Maklumlah matanya yang hijaiyyah bukan hati dan perilakunya. ]
Orang sadar harga, ia akan meratap kelu dan menerawang kedepan tuk mengukur nilai sebuah tanda suci, serta membuang ukuran-ukuran yang menilai kesucian dengan bilangan atau alasan, dan melebur agama untuk dipaksa jadi jeruji tanpa pembuka. Sebuah kesucian bagi mereka tak ubahnya sebuah indikator nyawa dalam sebuah game. Terpampang jelas oleh siapapun dan secara otomatis dijadikan tolak ukur. menjaganya memang harus sekuat tenaga. Bukan hanya dengan kata berusaha apalagi sudah berusaha.
Saya tercekat dengan adinda yang mematok harga 80 juta, saya bahkan memujinya karena menghargai 'sesuatu' itu dengan harga tinggi. Persetan ocehan media. kan memang seharusnya sebuah hal yang dianggap berharga dinilai dengan setimpal dan setara. Bukankah itu lebih baik dari pada mereka yang menghargainya dengan 200 ribu di pelataran? Atau yang 1 juta untuk sekali dikos-kosan? Atau bahkan yang memberi geratisan karena kedok cinta murahan? Justru harusnya malu pada sekitar. ada banyak hal yang harusnya disesali dan direnungi.  Tak ubahnya sebuah pepatah. Gajah dipelupuk mata tak tampak. Semut ditepi sungai nampak.
Lantas mengapa kalian menghujat 80 juta. Saya mengira anda frustasi karena tak pernah bisa mendapatkan nominal sekian. Tapi kalian juga tak menghargai kesucian mulut kalian dan mengotori ucapan tanpa sebuah alasan. mau beralasan agama? Memang melacur adalah haram dan dosa besar dan semua sepakat untuk itu. Tapi dalam mensikapi ini bukan dengan memakan dalil tapi dengan menikmati hasiatnya secara sempurna dan bukankah dalam kitab suci dijelaskan "azzani la yankihu illazzaniyata.." mengapa dalam kitab sesuci dan semulia Al Quran mencantumkan kata yang dianggap kotor itu? Itu karena sang pencipta tak akan menciptakan hal yang baik kecuali disertai hal yang buruk. karena Neraka benar adanya. Begitu pula dengan adinda, adanya didunia ini seperti adinda dan kawan-kawan merupakan sunnatullah sebagai konsekuensi dari penciptaan Setan, Neraka dan tokoh antagonis lainnya. Kalian yang merasa berhati malaikat seharusnya adalah memberikan cahaya kepada sesama manusia. Bukan malah mengambil cahaya dan membawanya pergi ntah kemana. Kita sejatinya adalah ciptaan yang disamarkan dalam hal yang sama. Atau tak ubahnya seekor lalat yang hinggap ditempat bersih dan kotor. Kesana kemari mencari aib tiada henti, lupa dengan diri sendiri. Padahal ada Anjuran yang mengatakan : jika kau tutupi aib orang lain maka akan Tuhan tutupi aibmu dan berlaku pula sebaliknya.
Dengan sadar kalian mengoceh kesana kemari dengan tertawa membawa sampah dan lupa bahwa dalam perutmu juga ada sampah. Perihal keimanan, Bisa jadi seorang pelacur lebih baik dari manusia lainnya dalam hal keimanan. Saat ia bertikai dalam dosa bisa saja setidaknya selalu ada sedikit sesal dihati dan mengingat Tuhan. Karena kita tak bisa mendekte hidayah yang hinggap dihati siapa. Tentang itu murni kuasa Tuhan. Dan jangan berlagak seperti Tuhan. Berbeda dengan mereka yang berbangga karena status islam dipundaknya yang terkadang tak ada sedikitpun sesal dan hormat tunduk pada sang pemberi agama. Bukankah kesombongan lebih hina dari Kesadaran?.
hal yang sangat dianggap biasa di negri yang bertikai karena agama dan berbahagia dengan larangan Tuhannya. Mengapa kau permasalahkan bendera kalau nilai esensi agamamu tak ada? Dan mengapa kau komentari 80 juta padahal kaupun menikmati sekawannya dalam rekaman kamera? Dan mengapa selalu kau yang memberikan suara?
mungkin kau hanya akan mau mendengarkan terompet sang ajudan yang tak sabar dibunyikan. dan kau akan tersungkur hina meracau sesal tiada hingga.
Salam semangat untuk adinda.

Dak pye aa....

Minggu, 06 Januari 2019

Jepara, 7 January 2019

Menghamba bukanlah suatu gelar mulia yang diperebutkan. Namun lebih kepada status akibat efek yang ditimbulkan dari prilaku jiwa. Seorang hamba sejati tak pernah mengatakan dirinya menyembah tuhan disetiap waktunya. Karena baginya urusan kedekatan adalah milik mereka berdua. Seperti halnya ketika bersama kekasih yang tak rela kemesraannya diganggu tentangga. Hamba yang menghamba adalah yang berprilaku seperti air mengalir menyejukkan tanpa merusak, menjadi sumber kehidupan dan kedamaian, mengalir menuju muara tempat sejatinya ia tercipta. tindak patuhnya Sesuai pola aliran yang segaris dengan keinginan sang pencipta, untuk selalu memupuk sembah dan hormat, bukan yang mengaku sesuai namun bertikai dan bercerai berai, Memusuhi tanpa saling menghormati Atau Melupakan esensi sembah Tuhan yang sesungguhnya. Karena ketika telah merasuk dalam jiwanya kenikmatan yang terpatri sebab cinta yang menghamba maka ia akan abai terhadap raksa. Mengabai terhadap apa yang dijanjikan Tuhannya. Buat apa mendapatkan janji kalau pemberinya pun bisa senantiasa memberi dengan senang hati.
Hakikat dari musuh yang nyata adalah angkara. yaitu nafsu. Nafsu menjadi bagian penting dalam proses makar yang dilakukan syetan untuk mengkudeta hati dan tubuh manusia. Namun, bukannya membrantas nafsu namun manusia lebih pada menghujat syetan.. Padahal setan akan hanya menuruti dan mendatangi lambaian nafsu dalam diri seorang hamba. Memang. Setan adalah sang antagonis terhebat yang sangat sukses melaksanakan tugasnya.. bentuk kepatuhannya adalah dengan sikap antagonis yang diperintahkan oleh sang sutradara. sebagai akibat gagalnya ia berperan protagonis dimasa silam. Namun, perlu diingat. terkadang ekspektasi memghamba terlalu tinggi dapat menimbulkan dampak penyembahan tak bernilai sama sekali.  Karena terkadang menghamba pada kuasa dengan mensyukuri nikmatnya dapat pula diartikan menyembah nikmatnya. Bukan pemberinya. Seperti halnya pengemis yang berpura-pura sakit agar dikasih pemberi. tujuan permintaan adalah uangnya. Tanpa ada rasa balas budi pada pemiliknya.  Maka. Mengharap sedikit lentera dalam gulita adalah jawaban sesungguhnya. Kita menghamba dengan sepenuhnya. Mencoba mendalami gelap untuk menggapai terang. Bukan meraba terang untuk menuju titik gelap.  Ya. Titik gelap fatamorgana muara janji yang menenggelamkan mahabbah manusia pada sang pencipta. menghamba pada sholat dhuha agar muara janji rezeqi tiada tara. Menghamba pada shodaqoh agar dikembalikan harta tanpa disangka.. Semua itu tak bisa disalahkan. Namun alangkah lebih baiknya. Murnikan status menghamba sesuai tempatnya. Ibarat domba. Kau ambil induknya. Kan ikut pula anak-anaknya.

Dak pyee aa...